Minggu, 01 Juni 2014

PERAN UMAT DALAM AGAMA




Kehadiran Agama-agama dan umat beragama [terutama setelah menjadi organisasi sosial-keagamaan] dengan semangat keagamaannya, sebetulnya mampu berbuat banyak pada konteks sosial, budaya, pekerjaan, dan profesi mereka masing-masing, sekaligus dapat membangun interaksi yang baik antara Agama dan Masyarakat. Dalam perkembangan akhir-akhir ini, peran umat beragama semakin dominan, terutama masyarakat dan pemerintah.

Akan tetapi, di balik semuanya itu, tidak dapat disangkal bahwa sebagian besar kegiatan umat beragama hanya menunjang program-program di agamanya. Jadi, lebih banyak berpusat pada komunitas agamanya; dan sebagian besar atau pada umumnya belum menyentuh serta berdampak pada masyarakat luas. Padahal dengan kemampuan, kekuatan, ketrampilan, serta serta sumber daya insani umat beragama, bisa menjadikan mereka berbuat banyak dan lebih kepada masyarakat. Karena kehadiran Agama-agama di Nusantara, pada umumnya sebelum Indonesia merdeka, tentu saja telah mempunyai banyak pengalaman membina masyarakat dalam banyak hal. Oleh sebab itu, Agama [melalui berbagai program pemberitaan dan pelayanan dan kesaksian] memperlengkapi umat beragama seoptimal mungkin. Agama bagaikan pesamaian sumber daya insani manusia Indonesia, yang nantinya berhasil mengatasi dan menghadapi berbagai pergumulan dan tantangan [secara internal maupun eksternal] masyarakat dan bangsa.

Pada umumnya, umat beragama [di desa, pedesaan sampai di metropolitan], sering menampilkan diri dan aktif ketika menjelang kegiatan-kegiatan [secara] agamawi yang tradisional [yang sejak dulu sudah ada dan hampir tak berubah], misalnya waktu ibadah, hari-hari raya keagamaan. Timbul pertanyaan, apakah dengan mengikuti hal-hal seperti itu, sudah bisa menjadi acuan bahwa umat beragama telah berperan di/dalam agama? Menurut penulis, belum cukup sebagai acuan. Karena jika hal-hal itu saja yang dilakukan, maka semua peran tradisional tersebut hanya berdampak pada tampilan dan lingkungan fisik agama. Oleh sebab itu, perlu suatu bentuk peran yang lebih holistik menyangkut banyak hal. Hal-hal tersebut antara lain,

Umat beragama Sebagai Pembina Kerohanian. Sejarah agama mencatat bahwa, kehadiran [kemudian berkembang] Agama di Indonesia karena penyebaran agama yang dilakukan oleh para pendatang dari Timur Tengah, Eropa [dan juga Amerika]. Pada perkembangan kemudian umat beragama di Indonesia pun melakukan hal yang sama, agar sesamanya mengenal TUHAN dan menjadi umat salah satu agama. Memang harus diakui bahwa adanya agama-agama di Indonesia karena pekerjaan para missionaris, ustad, kyai, zendeling, pendeta, penginjil dari Timur Tengah, India, Eropah, kemudian Amerika. Mereka sekaligus sebagai guru rohani umat beragama di Indonesia. Namun, keadaan itu, agaknya telah meninggalkan pada umat beragama di Indonesia, bahwa hanya orang-orang yang dipanggil secara khusus [seperti missionaris, ustad, kyai, zendeling, pendeta, penginjil] sajalah yang mampu bertindak sebagai pembimbing rohani [kerohanian] umat. Dengan demikian, ada semacam konsep diri [pada umat beragama] yang tidak terungkap namun ada yaitu, biarlah umat beragama berperan pada bidang lain saja, karena urusan kerohanian umat [termasuk anggota keluarga], adalah porsi mereka yang mempunyai kemampuan untuk itu. Padahal tidak demikian. Umat beragama dapat berperan sebagai pembina kerohanian kepada sesama serta seisi rumahnya.

Dalam kaitan dengan sebagai pembina kerohanian setiap anggota keluarga ataupun seisi rumah, maka hal tersebut harus dilakukan terus menerus hingga mencapai kedewasaan rohani, beragama, berbangsa dan bernegara. Keluarga adalah ladang pendidikan dan bimbingan pertama serta utama kepada anak-anak.

Jika anak-anak bertumbuh serta berkembang dalam keluarga yang baik maka ia akan mempunyai tampilan diri berteladan dan bertanggungjawab di tengah masyarakat. Karena itu, peranan umat beragama [sebagai orang tua] ketika membimbing anak-anaknya agar menjadi manusia Indonesia yang beriman sekaligus mampu mempraktekan apa yang diimaninya. Lebih daripada itu, umat beragama dapat berperan agar seseorang mampu mengalami pertumbuhan dan perkembangan manusia seutuhnya, yaitu menyangkut aspek fisik, psikologis, intelektual, sosial, dan lain-lain. Dan untuk menjadi seorang pembina, maka ia harus juga belajar atau mengalami proses binaan.

Oleh karena itu, perlu perubahan paradigma [pola dan model] peran umat beragama sehingga memampukan orang-orang yang menjadi tanggungjawabnya memahami kasih dan karya TUHAN Allah dalam hidup sehari hari. Sekaligus mendampingi serta membantu mereka mentransformasi nilai-nilai agama ke dalam hidup dan kehidupan. Dengan demikian, menghasilkan manusia Indonesia yang mampu menghayati imannya secara bertanggungjawab di tengah masyarakat yang pluralistik. Ada suatu harapan, jika semua umat beragama menyadari diri [betapa pentingnya peran dirinya sebagai pembina kerohanian dalam keluarga] bahwa ia juga bertanggung jawab sebagai pembina kerohanian, maka ibadah-ibadah yang diadakan umat beragama tidak pernah sepi.

Umat beragama Sebagai Pendidik Agama di rumah atau dalam keluarga. Perkembangan  pemikiran, intelektual, kemajuan iptek, cepat serta bebasnya arus informasi dan budaya asing, bahkan perubahan dalam tatanan sosial manusia, berdampak pada  perubahan penilaian terhadap hampir semua aspek hidup dan kehidupan manusia, termasuk agama. Karena perkembangan yang cepat itu, juga menyangkut perubahan nilai-nilai hidup, maka menjadikan masyarakat cenderung mengutamakan hal-hal bersifat materi. Akibatnya, kesuksesan seseorang diukur dari apa atau berapa banyak yang dipunyainya, bukan dari ketentraman serta damai sejahtera dalam hidup.

Di samping itu, kompleksitas kehidupan masyarakat perkotaan dan modern yang penuh  dengan  intrik, penyalahgunaan kekuasaan,  nepotisme,  kolusi, klik politik, sentimen SARA, egoistis, materialistis, ketidakadilan, dan lain-lain; termasuk keberadaan masyarakat pedesaan yang masih saja tertinggal, terlupakan, serta tidak tersentuh arus pembangunan dan modernisasi, merupakan tempat umat beragama berada serta melakukan pelayanan dan kesaksianya. Dalam konteks  itulah, umat beragama ada, berjuang, bersaksi, sekaligus menyampaikan sabda Tuhan kepada anak-anaknya. Di sini, ia berperan sebagai guru agama di rumah, agar mereka tidak mudah terpengaruh pada semua perubahan yang ada di/dalam masyarakat.

Karena salah satu fungsi orang tua [ayah-ibu] di rumah adalah sebagai pendidik; maka mereka juga harus berupaya mengetahui prinsip-prinsip peningkatan kualitas belajar dan mengajar seperti dimiliki para pendidik [guru] di sekolah. Upaya tersebut dapat dilakukan untuk memperlengkapi diri dengan membuka wawasan melalui pembinaan yang dilakukan oleh agama. Untuk itu, memerlukan proses berkelanjutan, karena belajar merupakan sesuatu yang dinamis dan mengarah pada terjadinya perubahan menyangkut ranah kognitif, afektif dan psikomotoris.

HARI HARI RAYA DI BALI


http://www.babadbali.com/image/v_spacer2.gif 
Hari Raya Galungan (Budha Kliwon Dungulan)
Sejarah Hari Raya Galungan masih merupakan misteri. Dengan mempelajari pustaka-pustaka, di antaranya Panji Amalat Rasmi (Jaman Jenggala) pada abad ke XI di Jawa Timur, Galungan itu sudah dirayakan. Dalam Pararaton jaman akhir kerajaan Majapahit pada abad ke XVI, perayaan semacam ini juga sudah diadakan.
Menurut arti bahasa, Galungan itu berarti peperangan. Dalam bahasa Sunda terdapat kata Galungan yang berarti berperang.
Parisadha Hindu Dharma menyimpulkan, bahwa upacara Galungan mempunyai arti Pawedalan Jagat atau Oton Gumi. Tidak berarti bahwa Gumi/ Jagad ini lahir pada hari Budha Keliwon Dungulan. Melainkan hari itulah yang ditetapkan agar umat Hindu di Bali menghaturkan maha suksemaning idepnya ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi atas terciptanya dunia serta segala isinya. Pada hari itulah umat angayubagia, bersyukur atas karunia Ida Sanghyang Widhi Wasa yang telah berkenan menciptakan segala-galanya di dunia ini.
Ngaturang maha suksmaning idép, angayubagia adalah suatu pertanda jiwa yang sadar akan Kinasihan, tahu akan hutang budi.
Yang terpenting, dalam pelaksanaan upakara pada hari-hari raya itu adalah sikap batin. Mengenai bebanten tidak kami tuliskan secara lengkap dan terinci. Hanya ditulis yang pokok-pokok saja menurut apa yang umum dilakukan oleh umat. Namun sekali lagi, yang terpenting adalah kesungguhan niat dalam batin.
Dalam rangkaian peringatan Galungan, pustaka-pustaka mengajarkan bahwa sejak Redite Pahing Dungulan kita didatangi oleh Kala-tiganing Galungan. Sang Kala Tiga ialah Sang Bhuta Galungan, Sang Bhuta Dungulan dan Sang Bhuta Amangkurat. Disebutkan dalam pustaka-pustaka itu: mereka adalah simbul angkara (keletehan). Jadi dalam hal ini umat berperang, bukanlah melawan musuh berbentuk fisik, tetapi kala keletehan dan adharma. Berjuang, berperang antara dharma untuk mengalahkan adharma. Menilik nama-nama itu, dapatlah kiranya diartikan sebagai berikut:
  1. Hari pertama = Sang Bhuta Galungan.
    Galungan berarti berperang/ bertempur. Berdasarkan ini, boleh kita artikan bahwa pada hari
    Redite Pahing Dungulan kita baru kedatangan bhuta (kala) yang menyerang (kita baru sekedar diserang).
  2. Hari kedua = Sang Bhuta Dungulan.
    Ia mengunjungi kita pada hari
    Soma Pon Dungulan keesokan harinya. Kata Dungulan berarti menundukkan/ mengalahkan.
  3. Hari ketiga = Sang Bhuta Amangkurat
    Hari
    Anggara Wage Dungulan kita dijelang oleh Sang Bhuta Amangkurat. Amangkurat sama dengan menguasai dunia. Dimaksudkan menguasai dunia besar (Bhuwana Agung), dan dunia kecil ialah badan kita sendiri (Bhuwana Alit).
Pendeknya, mula-mula kita diserang, kemudian ditundukkan, dan akhirnya dikuasai. Ini yang akan terjadi, keletehan benar-benar akan menguasai kita, bila kita pasif saja kepada serangan-serangan itu. Dalam hubungan inilah Sundari-Gama mengajarkan agar pada hari-hari ini umat den prayitna anjekung jnana nirmala, lamakane den kasurupan. Hendaklah umat meneguhkan hati agar jangan sampai terpengaruh oleh bhuta-bhuta (keletehan-keletehan) hati tersebut. Inilah hakikat Abhya-Kala (mabiakala) dan metetebasan yang dilakukan pada hari Penampahan itu.
Menurut Pustaka (lontar) Djayakasunu, pada hari Galungan itu Ida Sanghyang Widhi menurunkan anugrah berupa kekuatan iman, dan kesucian batin untuk memenangkan dharma melawan adharma. Menghilangkan keletehan dari hati kita masing-masing. Memperhatikan makna Hari Raya Galungan itu, maka patutlah pada waktu-waktu itu, umat bergembira dan bersuka ria. Gembira dengan penuh rasa Parama Suksma, rasa terimakasih, atas anugrah Hyang Widhi. Gembira atas anugrah tersebut, gembira pula karena Bhatara-bhatara, jiwa suci leluhur, sejak dari sugi manek turun dan berada di tengah-tengah pratisentana sampai dengan Kuningan.
Penjor terpancang di muka rumah dengan megah dan indahnya. Ia adalah lambang pengayat ke Gunung Agung, penghormatan ke hadirat Ida Sanghyang Widhi. Janganlah penjor itu dibuat hanya sebagai hiasan semata-mata. Lebih-lebih pada hari raya Galungan, karena penjor adalah suatu lambang yang penuh arti. Pada penjor digantungkan hasil-hasil pertanian seperti: padi, jagung, kelapa, jajanan dan lain-lain, juga barang-barang sandang (secarik kain) dan uang. Ini mempunyai arti: Penggugah hati umat, sebagai momentum untuk membangunkan rasa pada manusia, bahwa segala yang pokok bagi hidupnya adalah anugrah Hyang Widhi. Semua yang kita pergunakan adalah karuniaNya, yang dilimpahkannya kepada kita semua karena cinta kasihNya. Marilah kita bersama hangayu bagia, menghaturkan rasa Parama suksma.
Kita bergembira dan bersukacita menerima anugrah-anugrah itu, baik yang berupa material yang diperlukan bagi kehidupan, maupun yang dilimpahkan berupa kekuatan iman dan kesucian batin. Dalam mewujudkan kegembiraan itu janganlah dibiasakan cara-cara yang keluar dan menyimpang dari kegembiraan yang berdasarkan jiwa keagamaan. Mewujudkan kegembiraan dengan judi, mabuk, atau pengumbaran indria dilarang agama. Bergembiralah dalam batas-batas kesusilaan (kesusilaan sosial dan kesusilaan agama) misalnya mengadakan pertunjukkan kesenian, malam sastra, mapepawosan, olahraga dan lain-lainnya. Hendaklah kita berani merombak kesalahan-kesalahan/ kekeliruan-kekeliruan drsta lama yang nyata-nyata tidak sesuai atau bertentangan dengan ajaran susila. Agama disesuaikan dengan desa, kala dan patra. Selanjutnya oleh umat Hindu di Bali dilakukan persernbahyangan bersama-sama ke semua tempat persembahyangan, misalnya: di sanggah/ pemerajan, di pura-pura seperti pura-pura Kahyangan Tiga dan lain-lainnya. Sedangkan oleh para spiritualis, Hari Raya Galungan ini dirayakan dengan dharana, dyana dan yoga semadhi.
Persembahan dihaturkan ke hadapan Ida Sanghyang Widhi dan kepada semua dewa-dewa dan dilakukan di sanggah parhyangan, di atas tempat tidur, di halaman, di lumbung, di dapur, di tugu (tumbal), di bangunan-bangunan rumah dan lain-lain.
Seterusnya di Kahyangan Tiga, di Pengulun Setra (Prajapati), kepada Dewi Laut (Samudera) Dewa Hutan (Wana Giri) di perabot-perabot / alat-alat rumah tangga dan sebagainya.
Widhi-widhananya untuk di Sanggah/ parhyangan ialah: Tumpeng penyajaan, wewakulan, canang raka, sedah woh, penek ajuman, kernbang payas serta wangi-wangian dan pesucian. Untuk di persembahyangan (piasan) dihaturkan tumpeng pengambean, jerimpen, pajegan serta dengan pelengkapnya. Lauk pauknya sesate babi dan daging goreng, daging itik atau ayarn, dibuat rawon dan sebagainya. Sesudah selesai menghaturkan upacara dan upakara tersebut kemudian kita menghaturkan segehan tandingan sebagaimana biasanya, untuk pelaba-pelaba kepada Sang Para Bhuta Galungan, sehingga karena gembiranya mereka lupa dengan kewajiban- kewajibannya mengganggu dan menggoda ketentraman batin manusia.
Demikianlah hendaknya Hari Raya Galungan berlaku dengan aman dan diliputi oleh suasana suci hening, mengsyukuri limpahan kemurahan Ida Sanghyang Widhi untuk keselamatan manusia dan seisi dunia. Pada hari
Saniscara Keliwon Wuku Kuningan (hari raya atau Tumpek Kuningan), Ida Sanghyang Widhi para Dewa dan Pitara-pitara turun lagi ke dunia untuk melimpahkan karuniaNya berupa kebutuhan pokok tersebut.
Pada hari itu dibuat nasi kuning, lambang kemakmuran dan dihaturkan sesajen-sesajen sebagai tanda terimakasih dan suksmaning idep kita sebagai manusia (umat) menerima anugrah dari Hyang Widhi berupa bahan-bahan sandang dan pangan yang semuanya itu dilimpahkan oleh beliau kepada umatNya atas dasar cinta-kasihnya. Di dalam tebog atau selanggi yang berisi nasi kuning tersebut dipancangkan sebuah wayang-wayangan (malaekat) yang melimpahkan anugrah kemakmuran kepada kita semua.
Demikian secara singkat keterangan-keterangan dalam merayakan hari Raya Galungan dan Kuningan dalam pelaksanaan dari segi batin.
Kesimpulan:
  • Dalam menyambut dan merayakan hari-hari raya itu, bergembiralah atas anugrah Hyang Widhi dalam batas-batas kesusilaan agama dan keprihatinan bangsa.
  • Terangkan hati, agar menjadi Çura, Dira dan Deraka (berani, kokoh dan kuat), dalam menghadapi hidup di dunia.
  • Hemat dan sederhanalah dalam mempergunakan biaya.
  • Terakhir dan bahkan yang terpenting ialah mohon anugrah Hyang Widhi dengan ketulusan hati.
Om, sampurna ya nama swaha.
Om, sukham bhawantu.



“Kawinnya” Modernitas dan Tradisi di Bali



Oleh : Dwin Gideon
Seni rupa di Bali adalah gabungan dari dua kekayaan sejarah seni rupa, yaitu antara sejarah seni tradisi di Ubud yang dikembangkan lewat seniman rupa Bali turun-temurun, juga sejarah “seni rupa Eropa”.

Kedua latar inilah yang bergabung dalam perhimpunan seniman Pita Maha di Bali pada tahun 1936, menyatukan nama seniman Tjokorda Gede Agung Sukawati, Walter Spies dengan Rudolf Bonnet.
Seniman dengan latar belakang berbeda namun sejiwa ini lalu mempertahankan kualitas seni yang kemudian menjadi ciri khas seni rupa Bali, sekaligus mengembangkan teknik dan topik baru dalam dunia seni lukis. Ide dari Pita Maha kemudian ditawarkan kepada seniman generasi muda di Bali. Mereka juga membantu memperkenalkan karya para seniman muda Ubud-Bali kepada para pelancong dari mancanegara.

Karya koleksi seni Bali Bonnet yang berasal dari akhir tahun 1920-an hingga 1950-an dihibahkan kepada Museum Puri Lukisan. Seni rupa berbagai medium, bisa berupa lukisan, gambar dan patung kayu. Rudolf juga mengumpulkan sejumlah lukisan, yang dibawanya ketika dia kembali ke Belanda di tahun 1958. Di tahun 1961, Bonnet menjual koleksi lukisan kepada Universitas Leiden, yang kemudian menyerahkan lukisan-lukisan ini kepada Museum Etnologi di Leiden sebagai pinjaman tetap yang jumlahnya sampai 127 lukisan.


Pada pameran bertajuk “Pioneers of Balinese Paintings” yang digelar sejak 19 September hingga 23 Oktober di Erasmus Huis, Jl HR Rasuna Said Kav S-3 Kuningan Jakarta ini, Yayasan Rudolf Bonnet menggelar 60 lukisan koleksi Bonnet sejak tahun 1929-1958. Pameran sebelumnya sempat digelar juga di Museum Puri Lukisan di Ubud, Bali.
Ketua Yayasan Ratna Wartha, Tjokorda Putra Sukawati, yang memiliki Museum Puri Lukisan di Ubud hadir pada momen pembukaan pameran itu. “Rata-rata pelukis Bali ini berkumpul di Ubud. Para seniman dari Ubud inilah yang banyak mendominasi seni lukis dari Bali,” kata Tjokorda Gede Putra Sukawati, dalam dialog dengan SH, Kamis (18/9).
Menurut Tjokorda, tempat kumpul yang sama inilah yang banyak mempengaruhi kesamaan gaya dan tekstur dari lukisan-lukisan yang ditampilkan pada pameran kali ini. Dari sekian banyak pelukis yang ada di Ubud itu, I Gusti Nyoman Lempad adalah seorang yang paling menonjol. Selain sebagai pelukis Bali yang legendaris, Lempad juga dikenal sebagai undagi, perencana bangunan tradisional, dan sangging, pembuat perangkat untuk upacara Ngaben.
Lempad dilahirkan di Bedahulu tahun 1862, dan meninggal pada 9 Mei 2008. Pada tahun 1970, Lempad mendapat Anugerah Seni dalam bidang seni lukis dari Pemerintah Indonesia dan penghargaan Dharma Kusuma dari Pemda Bali tahun 1982. “Di Leiden sendiri, nama Lempad sudah cukup dikenal,” tambah Ketua Yayasan Rudolf Bonnet, Pienke Kal.
Masyarakat yang sudah pernah menyaksikan koleksi Bonnet, menurut Pienke, pasti akan menyatakan kekagumannya terhadap karya Lempad. Seperti halnya pelukis Bali yang lain, Lempad tidak banyak bermain warna di dalam karya-karyanya. Lukisan-lukisannya kebanyakan “hanya” menggunakan tinta hitam-putih. Untuk temanya sendiri, Lempad banyak melukiskan kegiatan masyarakat sehari-hari.
“Satu ciri yang menjadi kekhasan karya-karya Lempad adalah bahwa dari tema keseharian tersebut, Lempad selalu menampilkan suasana yang gembira dalam lukisan-lukisannya,” kata Pienke. Bahkan, senyum sebagai simbol kegembiraan tidak hanya ditampilkan pada gambar-gambar orang, tetapi juga pada gambar hewan yang ada di lukisannya. Seperti pada Two Farmers and Bullocks, Lempad melukiskan dua petani yang sedang mengendarai pedati yang ditarik kerbau. Baik petani maupun kerbaunya digambarkan dengan senyum yang riang.
Demikian juga pada The God Siwa and His Son Kala. Meskipun menampilkan tema religius dengan makna yang mendalam, Lempad tetap tidak lupa menampilkan senyum yang riang pada tokoh-tokoh yang ada di sana, Dewa Siwa dan Putranya, Kala. “Dengan tema kegiatan sehari-hari, Lempad ingin mengajak kita untuk tetap optimistis dan tetap gembira di dalam menjalani hidup,” kata Pienke.
Keseluruhannya, ada empat karya Lempad yang dipamerkan, yaitu The God and His Son Kala, Family Scene, Two Farmers and Bullocks, dan Malem-Servant of The Pandawas. Menurut Pienke, keempatnya mempunyai popularitas yang sama di Leiden. Semua karya disukai banyak penikmat lukisan.
Pameran para pelopor lukisan modern Bali yang diprakarsai oleh Yayasan Rudolf Bonnet di Belanda ini juga dilakukan dalam rangka memperingati 50 tahun berdirinya Museum Puri Lukisan di Ubud. Sebuah tarikan sejarah panjang yang mewarnai seni rupa Nusantara dan seni rupa di dunia, kembali digoreskan.
lihat juga artikel dibawah ini
Arus Figur, Demam Kreatif Seniman Bali
Oleh Putu Wirata








CAKRAWALA kreativitas dunia seni rupa kontemporer di Bali khususnya, agaknya tengah dilanda awan mendung. Sejak munculnya seni klasik kamasan, lukisan tradisional gaya Ubud, maupun Batuan lewat perkumpulan Pita Maha pada tahun 1930-an, lalu perkumpulan Young Artists di Penestanan pada tahun 1950-an, yang kemudian didobrak oleh eksperimen anak-anak muda yang tergabung dalam Sanggar Dewata Indonesia menjelang akhir tahun 1970-an, sesudahnya tidaklah sedikit seniman-seniman muda yang bereksperimen untuk mencipta sesuatu yang orisinal dan sebisa-bisanya keluar dari style yang sudah menjadi ladang eksplorasi para seniman sebelumnya. Eksperimen memang memerlukan nyali selain kemampuan kreatif yang tak kenal menyerah.


Pelukis-pelukis Ubud tahun 1930-an misalnya, masuk dalam Pita Maha yang sedang gencar melakukan eksperimen dibawah motor trio Walter Spies, Rudolf Bonnet dan Tjokorda Gde Agung Sukawati, sebuah eksperimen dan eksplorasi yang tidak hanya menghasilkan pelukis-pelukis tradisional yang masuk pada tema-tema baru dalam karyanya, tetapi malah menghasilkan orang yang kreativitasnya benar-benar menyempal dari arus besar Pita Maha, seperti yang tampak pada Gusti Lempad ataupun pematung Cokot.
Selanjutnya, anak-anak muda, mahasiswa ISI (waktu itu ASRI) Yogyakarta asal Bali yang menghimpun diri dalam Sanggar Dewata Indonesia-lazimnya disebut Sanggar Dewata saja-pada tahun 1970-an, dimana berkumpul Made Wianta, Nyoman Gunarsa, Wayan Sika, Pande Gde Supada, dan lain-lain, menyerap gagasan modern tentang kreativitas berkesenian, tetapi tidak mau meninggalkan akar budayanya yang lekat kuat, sejak mereka lahir dan dibesarkan. Hanya beberapa tahun Made Wianta mengundurkan diri dari Sanggar Dewata, konon karena perbedaan faham dengan Nyoman Gunarsa. Namun, kelak kedua nama ini tumbuh menjadi nama yang diperhitungkan dalam tataran seni rupa kontemporer di Bali maupun Indonesia. Kelak Sanggar Dewata menjadi salah satu ”kantung” kreativitas, yang terlepas dari berbagai dinamika internal yang ada, telah melahirkan sejumlah nama kuat seperti Nyoman Erawan, Nyoman Sukari, Pande Ketut Taman, Nyoman Masriadi, dan sebagainya.
Namun, kendati ketika Sanggar Dewata lahir sempat menjadi polemik di seputar identitas ke-Bali-an, munculnya ”sub-eksplorasi” macam karya-karya Taman dan Masriadi, sampai sejauh ini masih berlangsung dalam dinamika yang gejolaknya dapat dirasakan secara estetis. Identitas ke-Bali-an perlahan-lahan tidak lagi menjadi wacana yang menarik, manakala migrasi seniman-seniman luar Bali menjadikan alam seniman kontemporer di Bali semakin pluralistik. Seniman-seniman Bali maupun kalangan pecinta seni di Bali, misalnya, tidaklah bisa tidak menarik napas pada karya-karya Piter Ditmar yang mengangkat ikon-ikon Budhis dalam ekspresi yang sangat kontemporer. Atau karya-karya Marc Jurt yang pernah dipamerkan di Agung Rai Museum, yang dengan teknik woodcut melakukan eksplorasi tematik pada aneka macam sesajen, detail arsitektur Bali, sawah-sawah, sungai maupun gunung gemunung Bali yang bisa dirasakan kehangatan dan kemesraannya. Perdebatan di seputar identitas ke-Bali-an, dengan sendirinya telah tenggelam oleh iklim plural yang muncul secara alamiah.
Namun, energi kreatif para seniman memanglah bukan sesuatu yang bisa diredam. Paska periode abstrak ekspresionis dengan ikonografi Bali pelukis Sanggar Dewata telah melahirkan Pande Taman dan Masriadi, yang dengan segera menebarkan semangat eksplorasi pada ladang yang sama: eksplorasi figur-figur. Taman dan Masriadi tengah berada dalam rangkaian gerbong kereta api yang bergerak maju, dimana di gerbong depannya ada Gunarsa, Wianta, Erawan, Sukari, Djirna, dan lain-lain.
Tidaklah sedikit perupa-perupa muda Bali yang tengah dilanda oleh semangat eksplorasi pada figur-figur itu, demam yang seakan-akan berlanjut dari beberapa kali Phillip Moris Indonesia Art Award, dimana yang masuk dalam nominasi, lazimnya karya-karya dengan tema-tema figur, entah mengangkat kritik sosial ataupun tema-tema lainnya. Rangkaian dari gejala-gejala ini memang bisa menimbulkan tuduhan, seakan-akan ”demam figur” tengah berjangkit pada seniman-seniman muda. Namun, mungkin akan lebih bijak untuk melihat ”demam figur” ini sebagai representasi dari eksplorasi diri masing-masing seniman. Karena, gejolak pencaharian agaknya tengah melanda banyak seniman, setelah satu generasi eksistensi Sanggar Dewata, yang telah mendeklarasikan satu ekspresi modern tanpa meninggalkan lambang-lambang budaya lokalnya, yang dalam hal ini budaya Bali. Nyoman Gunarsa yang sudah melambung sebagai seniman dengan julukan ”si tangan emas”, dengan Museum Seni Lukis Klasik Nyoman Gunarsanya di Klungkung, toh tetap memerlukan lambang-lambang baru, dengan menyelenggarakan pameran millenium di beberapa museum besar di Bali menjelang akhir tahun 1999 yang lalu. Made Wianta yang sudah kesohor masih perlu menancapkan satu perlambang baru dengan menggelar Art and Peace di pantai Padanggalak, Sanur, menyongsong milenium ketiga, tahun 2001.
Andaikan kita ini boleh bersedih menyaksikan dinamika kaum seniman belakangan ini, terjadi pergeseran makna yang sangat mendalam dalam eksplorasi mereka. Wacana seniman-seniman Bali tahun 1930-an rahim dan lingkungan budaya Pita Maha-lah yang melahirkan Gusti Ketut Kobot, Gusti Nyoman Lempad sampai pada Cokot, Nyana, dan lain-lain. Di tahun 1970-an sampai 1990-an, lingkungan Sanggar Dewata melahirkan Gunarsa, Wianta, Erawan, Taman, sampai Masriadi. Maka, memasuki milenium ketiga ini, yang terjadi adalah dobrakan-dobrakan yang secara kreatif mengguratkan warna muram pada cakrawala seni rupa kontemporer di Bali. Gerakan yang menamakan dirinya Mendobrak Hegemoni muncul dari Kamasra (keluarga mahasiswa seni rupa STSI Denpasar) pada tahun 2000, satu dobrakan yang coba mengobrak-abrik bangunan budaya yang telah dihasilkan sebelumnya: Pita Maha, Sanggar Dewata, galeri-galeri, museum-museum, media massa, kritikus, jurnalis seni, seniman-seniman yang dianggap master dan sebagainya. Dobrakan pelukis muda dari Kamasra ini dilangsungkan dalam sebuah pameran yang digelar di lapangan Puputan Badung, mengobrak-abrik pelukis-pelukis yang sudah dianggap maestro (Gunarsa, Wianta, Erawan, Chusin, Sika), galeri-galeri, Sanggar Dewata, museum, kurator, art dealer, jurnalis seni rupa, kritikus, dan sebagainya, seakan-akan seluruhnya hanyalah ”sampah tak berguna”. Dobrakan mereka seperti hendak meniadakan seluruh akumulasi historis dari penciptaan, satu dobrakan radikal yang hendak membangun dari nol!
Dua tahun setelah deklarasi Mendobrak Hegemoni yang menghebohkan itu, memang belum menstimulasi satu kreativitas baru. Sementara gerak-an Mendobrak Hegemoni tengah mengalami ”masa inkubasi” – satu tahapan menuju pencapaian berikutnya, hancur lebur atau tumbuh sebagai sosok yang lebih mantap-di Ubud, seniman Made Wiradana dan kurator Gde Putu Jaya mengejutkan dengan Deklarasi Akhir Tahun 2001, satu pernyataan terbuka bahwa Wiradana merasa pas berada pada jalur posmodernisme. Walaupun Putu Gde Jaya membabarkan argumen estetik dan filosofis dari deklarasi itu dengan referensi yang tidak bisa disangkal kehebatannya, orang dengan mudah mengentengkannya sebagai pernyataan yang sangat terlambat karena gerakan posmodern telah dilontar-kan oleh seniman-seniman Amerika sekitar 30-an tahun silam. Lagi pula, dengan menjadi anggota Sanggar Dewata-bahkan sekarang ini ia menjadi ketuanya-Made Wiradana sesungguhnya sudah mendeklarasikan diri berada dalam pusaran pluralisme kultural yang menjadi semangat kaum posmodernis.
Namun, walau gerakan Mendobrak Hegemoni belum mendobrak apa-apa dan Deklarasi Akhir 2001 Wiradana tidak menawarkan konsep orisinal yang sesungguhnya, khalayak seni rupa masih bisa memetik hikmah dari spirit gerakan mereka: hasrat untuk berkreasi dan semangat untuk menghasilkan sesuatu yang orisinal serta mempertanyakan apa yang sudah kuat bercokol sebagai mainstream. Ibarat Gunung Mandara Giri yang tengah diputar oleh dua kekuatan dahsyat untuk mencari tirta sanjiwani, kreativitas penciptaan seni rupa agaknya tengah bergemuruh dalam pusaran yang dinamis itu, dimana seniman-seniman melakukan pencaharian dengan segala daya cipta mereka. Ada yang kebablasan dan terjatuh, ada yang terjatuh tapi bangun lagi dan berkarya lagi.


AGAMA HINDU DI INDIA


Agama Hindu di India
Perkembangan agama Hindu di India, pada hakekatnya dapat dibagi menjadi 4 fase, yakni Jaman Weda, Jaman Brahmana, Jaman Upanisad dan Jaman Budha. Dari peninggalan benda-benda purbakala di Mohenjodaro dan Harappa, menunjukkan bahwa orang-orang yang tinggal di India pada jamam dahulu telah mempunyai peradaban yang tinggi. Salah satu peninggalan yang menarik, ialah sebuah patung yang menunjukkan perwujudan Siwa. Peninggalan tersebut erat hubungannya dengan ajaran Weda, karena pada jaman ini telah dikenal adanya penyembahan terhadap  Dewa-dewa.
Jaman Weda dimulai pada waktu bangsa Arya berada di Punjab di Lembah Sungai Sindhu, sekitar 2500 s.d 1500 tahun sebelum Masehi, setelah mendesak bangsa Dravida kesebelah Selatan sampai ke dataran tinggi Dekkan. bangsa Arya telah memiliki peradaban tinggi, mereka menyembah Dewa-dewa seperti Agni, Varuna, Vayu, Indra, Siwa dan sebagainya. Walaupun Dewa-dewa itu banyak, namun semuanya adalah manifestasi dan perwujudan Tuhan Yang Maha Tunggal. Tuhan yang Tunggal dan Maha Kuasa dipandang sebagai pengatur tertib alam semesta, yang disebut “Rta”. Pada jaman ini, masyarakat dibagi atas kaum Brahmana, Ksatriya, Vaisya dan Sudra.
Pada Jaman Brahmana, kekuasaan kaum Brahmana amat besar pada kehidupan keagamaan, kaum brahmanalah yang mengantarkan persembahan orang kepada para Dewa pada waktu itu. Jaman Brahmana ini ditandai pula mulai tersusunnya “Tata Cara Upacara” beragama yang teratur. Kitab Brahmana, adalah kitab yang menguraikan tentang saji dan upacaranya. Penyusunan tentang Tata Cara Upacara agama berdasarkan wahyu-wahyu Tuhan yang termuat di dalam ayat-ayat Kitab Suci Weda.
Sedangkan pada Jaman Upanisad, yang dipentingkan tidak hanya terbatas pada Upacara dan Saji saja, akan tetapi lebih meningkat pada pengetahuan bathin yang lebih tinggi, yang dapat membuka tabir rahasia alam gaib. Jaman Upanisad ini adalah jaman pengembangan dan penyusunan falsafah agama, yaitu jaman orang berfilsafat atas dasar Weda. Pada jaman ini muncullah ajaran filsafat yang tinggi-tinggi, yang kemudian dikembangkan pula pada ajaran Darsana, Itihasa dan Purana. Sejak jaman Purana, pemujaan Tuhan sebagai Tri Murti menjadi umum.
Selanjutnya, pada Jaman Budha ini, dimulai ketika putra Raja Sudhodana yang bernama “Sidharta”, menafsirkan Weda dari sudut logika dan mengembangkan sistem yoga dan semadhi, sebagai jalan untuk menghubungkan diri dengan Tuhan.
Agama Hindu, dari India Selatan menyebar sampai keluar India melalui beberapa cara. Dari sekian arah penyebaran ajaran agama Hindu sampai juga di Nusantara.




Masukknya Agama Hindu ke Indonesia dibawa oleh para pedagang dari India. Di antara pedagang tersebut ada yang menetap di Indonesia dan membawa pengaruh agama dan kebudayaan mereka. Kebudayaan Hindu di masa lampau mewariskan bermacam-macam peninggalan sejarah. Peninggalan sejarah yang bercorak kebudayaan Hindu antara lain candi, prasasti, patung, karya sastra (kitab), dan tradisi.

Berikut ini adalah peninggalan-peninggalan sejarah yang bercorak kebudayaan Hindu:

Candi

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhxeuz_k4z_odpRcIth7rmf2nXQGPodRi_BPsjSnlY3nA02RDwLWwoONbQ7BFAckp33m0zeerIpV8VuKrjZHkXw9wb8O65OOZRu23zactvallxwuuHSuYFYX8xwXe3Ag53JtruBjSYq_2g/s320/Candi+Prambanan.gif
Candi adalah bangunan yang biasanya terdiri dari tiga bagian, yaitu kaki, tubuh, dan atap. Pada candi Hindu biasanya terdapat arca perwujudan tiga dewa utama dalam ajaran Hindu. Tiga dewa itu adalah Brahma, Wisnu, dan Syiwa. Brahma adalah dewa pencipta, Wisnu dewa pemelihara, dan Syiwa dewa pelebur. Pada dinding candi terdapat relief, yaitu gambar timbul yang biasanya dibuat dengan cara memahat. Relief mengisahkan sebuah cerita.

Candi peninggalan Hindu yang terkenal adalah Candi Prambanan atau Candi Loro Jonggrang. Candi Prambanan dibangun pada abad ke-9 di perbatasan Yogyakarta dan Surakarta. Di dalam candi ini terdapat patung Trimurti dan relief yang mengisahkan cerita Ramayana. Tokoh dalam cerita Ramayana adalah Rama, Shinta, dan Burung Jatayu.


Candi-candi peninggalan agama Hindu

No.
Nama Candi
Lokasi Penemuan
Pembuatan
Peninggalan
1
Prambanan
Yogyakarta
Abad ke-7 M
Mataram Lama
2
Dieng
Dieng, Jawa Tengah
Abad ke-7 M
Mataram Lama
3
Badut
Malang, Jawa Timur
Tahun 760 M
Kanjuruhan
4
Canggal
Jawa Tengah
Abad ke-8 M
Mataram Lama
5
Gedong Sanga
Jawa Tengah
Abad ke-8 M
Mataram Lama
6
Penataran
Blitar, Jawa Timur
Abad ke-11 M
Kediri
7
Sawentar
Blitar Jawa Timur
Abad ke-12 M
Singasari
8
Candi Kidal
Jawa Timur
Abad ke-12 M
Singasari
9
Singasari
Jawa Timur
Abad ke-12 M
Singasari
10
Sukuh
Karang Anyar, Jateng
Abad ke-13 M
Majapahit

Prasasti

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgWogCm9KSiy44LBwbijSEf_ksQk0BiAgaLI_hU72M30eoHhvTzAa5jNX3HKNJEbUG2ZKExWgfS8Kz_hEzdcECHvwD1QhNI7Y0m23k1d5NAGkfGGgrQnv8TEu3IzEb2oKwG4Qc9ll6zwNM/s320/Prasasti+Kutai.gif
Prasasti adalah benda peninggalan sejarah yang berisi tulisan dari masa lampau. Tulisan itu dicatat di atas batu, logam, tanah liat, dan tanduk binatang. Prasasti peninggalan Hindu ditulis dengan huruf Pallawa dan berbahasa Sansekerta. Prasasti tertua adalah Prasasti Yupa, dibuat sekitar tahun 350-400 M. Prasasti Yupa berasal dari Kerajaan Kutai. Yupa adalah tiang batu yang digunakan pada saat upacara korban. Hewan kurban ditambatkan pada tiang ini. Prasasti Yupa terdiri dari tujuh batu bertulis. Isi Prasasti Yupa adalah syair yang mengisahkan Raja Mulawarman. Berikut ini daftar prasasti-prasasti peninggalan kebudayaan Hindu.


Prasasti-prasasti peninggalan kerajaan Hindu

No.
Nama Prasasti
Lokasi Penemuan
Pembuatan
Peninggalan
1
Kutai
Kutai, Kaltim
Abad ke-4 M
Kutai
2
Ciaruteun
Bogor, Jabar
Abad ke-5 M
Tarumanegara
3
Tugu
Cilincing, Jakut
Abad ke-5 M
Tarumanegara
4
Jambu
Bogor, Jabar
Abad ke-5 M
Tarumanegara
5
Kebon Kopi
Bogor, Jabar
Abad ke-5 M
Tarumanegara
6
Cidanghiang
Pandeglang
Abad ke-5 M
Tarumanegara
7
Pasir Awi
Leuwiliang, Jabar
Abad ke-5 M
Tarumanegara
8
Muara Cianten
Bogor, Jabar
Abad ke-5 M
Tarumanegara
9
Canggal
Magelang, Jateng
Abad ke-7 M
Mataram Lama
10
Kalasan
Yogyakarta
Tahun 732 M
Mataram Lama
11
Dinoyo
Malang, Jatim
Tahun 760 M
Mataram Lama
12
Kedu
Temanggung, Jateng
Tahun 778 M
Mataram Lama
13
Sanur
Bali
Abad ke-9 M
Bali





Patung

Wujud patung Hindu antara lain hewan dan manusia. Patung berupa hewan dibuat karena hewan tersebut dianggap memiliki kesaktian. Patung berupa manusia dibuat untuk mengabadikan tokoh tertentu dan untuk menggambarkan dewa dewi. Contoh patung peninggalan kerajaan Hindu yang terkenal adalah Patung Airlangga sedang menunggang garuda. Dalam patung itu, Airlangga digambarkan sebagai penjelmaan Dewa Wisnu.

Patung-patung peninggalan kerajaan Hindu

No.
Nama Patung
Lokasi Penemuan
Pembuatan
Peninggalan
1
Trimurti
-
-
-
2
Dwarapala
Bogor, Jabar
Abad ke-5 M
Tarumanegara
3
Wisnu Cibuaya I
Cibuaya, Jabar
Abad ke-5 M
Tarumanegara
4
Wisnu Cibuaya II
Cibuaya, Jabar
Abad ke-5 M
Tarumanegara
5
Rajasari
Jakarta
Abad ke-5 M
Tarumanegara
6
Airlangga
Medang Kemulan
Abad ke-10 M
Medang Kemulan
7
Ken Dedes
Kediri, Jatim
Abad ke-12 M
Kediri
8
Kertanegara
Jawa Timur
Abad ke-12 M
Singasari
9
Kertarajasa
Mojekerto, Jatim
Abad ke-13 M
Majapahit


Karya sastra (kitab)

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEilPvGwwkpwvMr_6KKtkzljZJjl-zh2JzaSM9kcxi_Wo8WBTh-Zvn23wCxotVVdvk7rdv59fv-qV0p8Ew522TSw0Psxkwr9vQl4RaZzNyVVwrKXx2ho6VSvQCAhyGgnv1foBaqk2EQuTqk/s320/Kitab+Baratuyuda.gif
Karya sastra peninggalan kerajaan Hindu berbentuk kakawin atau kitab. Kitab-kitab peninggalan itu berisi catatan sejarah. Umumnya karya sastra peninggalan sejarah Hindu ditulis dengan huruf Pallawa dalam bahasa Sansekerta pada daun lontar. Karya sastra yang terkenal antara lain Kitab Baratayuda dan Kitab Arjunawiwaha. Kitab Baratayuda dikarang Empu Sedah dan Empu Panuluh. Kitab Baratayuda berisi cerita keberhasilan Raja Jayabaya dalam mempersatukan Kerajaan Kediri dan Kerajaan Jenggala. Kitab Arjunawiwaha berisi pengalaman hidup dan keberhasilan Raja Airlangga. Berikut ini daftar kitab-kitab peninggalan sejarah Hindu di Indonesia.


Kitab-kitab peninggalan sejarah Hindu

No.
Nama Kitab
Lokasi Penemuan
Pembuatan
Peninggalan
1
Carita Parahayangan
Bogor, Jabar
Abad ke-5 M
Tarumanegara
2
Kresnayana
Bogor, Jabar
Abad ke-5 M
Tarumanegara
3
Arjunawiwaha
Kahuripan, Jatim
Abad ke-10 M
Medang Kemulan
4
Lubdaka
Kediri, Jatim
Abad ke-11 M
Kediri
5
Baratayuda
Kediri, Jatim
Abad ke-12 M
Kediri


Tradisi

Tradisi adalah kebiasaan nenek moyang yang masih dijalankan oleh masyarakat saat ini. Tradisi agama Hindu banyak ditemukan di daerah Bali karena penduduk Bali sebagian besar beragama Hindu. Tradisi agama Hindu yang berkembang di Bali, antara lain:
  1. Upacara nelubulanin ketika bayi berumur 3 bulan.
  2. Upacara potong gigi (mapandes).
  3. Upacara pembakaran mayat yang disebut Ngaben. Dalam tradisi Ngaben, jenazah dibakar beserta sejumlah benda berharga yang dimiliki orang yang dibakar.
  4. Ziarah, yaitu mengunjungi makam orang suci dan tempat suci leluhur seperti candi.